Bukan Cinta Pertama, tapi….

•June 2, 2009 • Leave a Comment

Penerjemahan bukanlah cinta pertama saya, tetapi sekarang menjadi gantungan hidup bagi saya dan keluarga, sepenuhnya. Pertengahan tahun 2007 saya mengundurkan diri sebagai dosen yayasan di sebuah universitas swasta di Malang. Pada tahun 2005 saya menyia-nyiakan kursi CPNS dosen yang sudah di depan mata (lulus tes, tapi tidak saya lanjutkan memenuhi persyaratan pemberkasan). Alasannya, saya ingin menekuni penerjemahan. Maka, jadilah saya kini, di usia ke-32 ini, penerjemah profesional yang menjadikan penerjemahan sebagai sandaran hidup saya.

Saat ini saya adalah penerjemah dan editor di Transbahasa, si merak kecil Pak Sugeng yang sedang mengepakkan sayapnya lebih luas lagi. Sedikit kilas balik, Pak Sugeng memulai Transbahasa tahun 2001 setelah mengalami pasang surut dengan beberapa lembaga jasa penerjemahan rintisannya. Setidaknya saya yang mulai berguru pada beliau pada tahun 1999 melihat senja dan tenggelamnya SGHPR (Sugeng Hariyanto – Patuan Raja) dan ITRS (Indonesian Translator Society) di peralihan milenium ini. Maka pada 2001, P Sugeng membentuk embrio Transbahasa, dengan saya membantunya. Kami mengawalinya dengan satu tas plastik surat lamaran ke sekitar 120 penerbit se-Jawa, beberapa membalas, 2 di antaranya akhirnya memberi pekerjaan. Jadilah kami penerjemah buku dengan tarif Rp 7.500,00 per halaman. Dengan visinya yang luas, Pak Sugeng membawa Transbahasa menapaki area terjemahan yang lain dengan membuka pasar internasional. Mulai 2005, penerjemahan buku nyaris kami tinggalkan. Paling hanya 1-2 judul per tahun, sekedar mempertahankan hubungan baik dengan klien tertentu. Buku terakhir kami adalah tentang biografi Said Nursi, yang terbit medio 2007. Tarif terakhir kami saat itu adalah Rp 15.000,00 per halaman.

Itu tentang Transbahasa yang menjadi ladang pencaharian saya. Saya tulis tadi bahwa penerjemahan bukan cinta pertama saya. Benar. Nyaris tidak terlintas di pikiran saya untuk menekuni bidang yang terkait dengan bahasa Inggris. Saat UMPTN tahun 1996, pilihan saya adalah teknik (sesuai dengan jurusan saya di SMA). Ketika gagal, pada tahun yang sama saya mendaftar di jurusan Matematika Unisma. Baru di saat pekan Penataran P4, saya mengajukan pindah jurusan ke Bahasa Inggris berkat saran guru Matematika saya di SMA, Bu Erna Setijawati. Menurut beliau, ada lebih banyak peluang bagi sarjana bahasa Inggris daripada Matematika. Saya beruntung menuruti saran itu.

Kebetulan dasar bahasa Inggris saya lumayan (saat lulus SMA, NEM saya 9,14 dari maksimal 10,00), tapi saat itu, mungkin karena pengalaman belajar bahasa Inggris yang tidak terlalu menyenangkan selama SMA, saya tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada pelajaran ini. Saya justru menanggap pengalaman terhebat saya dalam belajar bahasa Inggris adalah saat SMP, di sebuah kecamatan kecil, terjauh dari pusat kabupaten Trenggalek. Kelas satu SMP adalah saat pertama kali saya mengenal pelajaran bahasa Inggris (kami biasa menyebutnya ”Inggris” saja – penyebutan yang setelah beberapa belas tahun justru mengagetkan saya ketika suatu ketika kakak saya menyebutnya). Guru saya (kalau tidak salah, namanya Pak Hendro) mengenalkan bahasa Inggris dengan cara yang cukup memukau. Setidaknya begitulah kesan saya sebagai anak yang sama sekali tidak pernah mendengar orang bertutur dalam bahasa Inggris (kecuali di radio).

Saat saya kelas dua, datanglah guru baru alumni D3 Bahasa Inggris IKIP Malang. Namanya Pak Sujud, dari Tulungagung, dan ditugaskan mengajar kelas tiga. Usianya mungkin masih 25-an saat itu, energik, bersahabat dan kreatif. Pernah suatu kali beliau mengisi jam pelajaran kosong di kelas kami dengan menyanyi ”My bonnie”. Luar biasa sekali. Guru saya sendiri di kelas dua itu adalah Pak Teguh, seorang guru all-around yang mengajar empat pelajaran sekaligus: bahasa daerah, PSPB, Sejarah dan bahasa Inggris. Di luar kelas, teman-teman sering berolok-olok dengan pelafalan beliau. Rasanya tidak sabar untuk segera meloncat ke kelas tiga.

Akhirnya, diajar jugalah saya oleh Pak Sujud di kelas tiga. Tapi sebelum itu, kabar hebohnya Pak Sujud mengelola pelajaran sudah melegenda di SMP kami. Singkatnya, beliau adalah idola. Suara beliau lantang, naik turun berirama, humornya segar, dan cara mengajarnya kreatif. ”Tono” adalah subjek favoritnya apabila membuat kalimat. Beliau sering bercerita tentang almamaternya yang konon memiliki koleksi perpustakaan paling lengkap se-Asia Tenggara. Ketika suatu ketika beliau mengajari kami lagu “When the Smoke Is Going Down” dari Scorpions, saya benar-benar jatuh cinta. Rasanya ingin setiap hari belajar bahasa Inggris.

Malangnya, hari-hari indah itu terputus dengan cara yang getir: saya tidak bisa melanjutkan ke SMA. Alasannya klasik: ekonomi. Bahkan, sebenarnya, untuk biaya selama SMP pun saya mengandalkan beasiswa sebagai siswa SD teladan yang mewakili kecamatan di kompetisi tingkat kabupaten. Beasiswa itu habis setelah saya selesai SMP, sementara orang tua saya tidak cukup mampu untuk mengantarkan saya ke jenjang berikutnya. Jadilah 1990-1992 sebuah episode kelabu. Selama periode itu saya bekerja membantu orang tua, mulai menjadi buruh proyek sampai buruh tani. Untungnya, dan itu yang selalu saya syukuri, saya tetap suka membaca. Suatu ketika saya meminjam kamus bahasa Inggris-Indonesia dari seorang teman. Saya meminjamnya cukup lama, dan hal paling fenomenal yang saya lakukan dengannya adalah….menerjemahkan cerita bergambar Ken Arok ke dalam bahasa Inggris!! Tentunya hasilnya menggelikan. Tapi bagi saya itu adalah testimoni dari keinginan belajar saya yang tidak pernah padam.

Babak baru hidup saya dimulai pertengahan 1992, lagi-lagi dengan Pak Sujud sebagai katalisnya. Selama di SMP, hubungan saya dengan beliau cukup dekat. Namun beliau tidak pernah mengetahui bahwa saya terpaksa tidak bersekolah lagi. Karena itu beliau sangat prihatin saat mengetahui keadaan saya dua tahun kemudian. Maka dimulailah berbagai upaya agar saya bisa kembali sekolah…dan pada 24 Desember 1992 di sore yang diguyur hujan lebat, tibalah saya di Malang. Enam bulan kemudian saya mendaftar di SMA Wahid Hasyim Malang, dan tiga tahun kemudian lulus. (Bagian ini sengaja saya singkat karena akan semakin tidak relevan, meskipun menjadi mata rantai yang tak terputus dari keadaan saya saat ini. Perlu banyak kata untuk mengisahkan beratnya membagi waktu antara menjadi pembantu dengan anak sekolah, dsb.)

Nah, sekarang Unisma, almamater saya berikutnya setelah gagal di UMPTN. Menjalani masa kuliah dengan berbagi waktu antara bekerja dan menjadi mahasiswa, saya menyelesaikan pendidikan saya tepat waktu. Cumlaude malah. Mata kuliah penerjemahan I sampai III yang dibimbing Prof. Zuchridin saya selesaikan dengan nilai membanggakan, 1 B dan 2 A, meskipun saya ingin mengatakan itu tidak mewakili apa-apa. Artinya, ketika saya benar-benar masuk ke dunia penerjemahan, pengetahuan saya masih jauh dari cukup. Bahkan pada tahun 1999, saat saya direkrut oleh Pak Sugeng di lembaga penerjemahannya, sumbangsih saya barulah sebagai juru ketik. Beliau tidak pernah mengajar Penerjemahan di kelas saya, tapi pernah mengajar 4 mata kuliah selama kurun 4 semester: Business Correspondence, Theories of ESP, Cross Cultural Understanding, dan Sociolinguistics.

Selama menjadi juru ketik inilah saya secara tidak langsung mempelajari bagaimana penerjemah seperti Pak Sugeng, Pak Patuan Raja, Bu Mirjam Anugerahwati, sampai Ms. Melissa Robbin berkarya. Saat itu lembaga penerjemahan Pak Sugeng adalah ITRS dengan klien utama PT CPI Riau. Sekali waktu sebagai pemilik SGH-PR beliau juga masih menerima order dari kalangan mahasiswa S2 dengan tarif sedikit-di-atas-tarif-mahasiswa. Mencermati karya-karya para senior itu menjadi sekolah yang luar biasa bagi saya. Saya mempelajari medan makna kata, memilih kata, dsb. Saya belajar berbagai manuver dan strategi penerjemahan untuk menjembatani makna secara komunikatif. Dan, meskipun hasilnya belum optimal, pada tahun 2000 terbitlah buku karya terjemahan pertama saya (bersama Pak Sugeng dan Pak Patuan Raja) ”Jantung Sehat Sepanjang Hayat (Health Fitness for Life)”.

Saya menganggap diri saya sebagai pemagang yang sangat beruntung (istilah ”pemagang” itu lazim ya, di Google ada 5410 hits). Dan peruntungan saya semakin baik saja saat pada tahun 2002 mendapatkan beasiswa S2 ke Monash University Australia. Di sela-sela hari kuliah, saya masih menerjemahkan buku yang dikirim secara khusus oleh Pak Sugeng dari Malang. Interaksi dengan teks lisan dan tertulis yang intensif selama 3 semester di sana sangat berperan dalam membentuk kemampuan saya memahami teks. Itu pula yang saya yakini menjadikan saya S.Pg. (speedy gonzales) sebuah gelar humoris-causa dari Pak Sugeng untuk kecepatan saya menerjemahkan.

Kemauan untuk terus belajar adalah kondisi yang harus selalu ada dalam menggeluti pekerjaan ini. Penerjemahan sekarang semakin variatif, tidak hanya ditinjau dari segi karakteristik teksnya tetapi juga dari persyaratan teknisnya. Transbahasa yang semula dirintis sebagai jasa penerjemah buku sekarang telah semakin bergeser ke lahan dengan aneka macam teks, mulai dari teks deskriptif biasa seperti laporan penelitian LSM internasional, hingga teks hukum, iklan, situs web, manual produk sampai user-interface dan user-assistance perangkat lunak. Secara teknis pekerjaan ini memiliki tuntutan alat bantu (CAT) yang beragam. Jadilah saya, sebagai salah satu penerjemah yang paling lama di Transbahasa, belajar aneka macam CAT Tools. Sampai hari ini saya pernah bekerja dengan WordFast, Catalyst, Idiom, DeJavu, TTW, SDLX, Trados, LocStudio dan Helium (sesuai urutan kemahiran dari yang paling tidak mahir). Dua perangkat terakhir adalah proprietary Microsoft yang tidak dijual bebas. Saya berkesempatan mempelajari dan menggunakannya karena selama delapan bulan terakhir saya menjadi lead translator untuk lokalisasi produk-produk Windows Live Microsoft ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai seorang yang pernah dibesarkan dalam keterbatasan ekonomi, saya mensyukuri benar pekerjaan saya sekarang. Bentuknya adalah kerja keras dan kesungguhan. Bagi saya tidak ada teks yang sepele; semua teks adalah penting terlepas dari seberapa panjang atau pendeknya, dan seberapa banyak uang yang kita dapatkan darinya. Perhatian penuh, kemauan bertanya, meneliti makna. Semua klien adalah penting. Yang sekarang hanya memberi kita order beberapa ratus kata, bisa jadi besok punya pekerjaan lain dengan volume ribuan, puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu kata. Mempertahankan kepercayaan klien berarti membantu menjamin bahwa masih ada sesuatu untuk mengasapi dapur esok hari. Karena itulah, ketika berperan sebagai editor, ketajaman pisau bedah saya selalu saya pertahankan demi menghasilkan kualitas akhir yang lebih baik. Untungnya, para kolega saya sejauh ini selalu berpikiran terbuka terhadap kritik dan masukan, dan sama-sama berkomitmen untuk mencapai peningkatan. Itulah modal bagi kami, Transbahasa, untuk terus melangkah.

O ya….Saya lahir Kamis Pon dan ternyata (sepertinya) cocok bekerja di penerjemahan.

Asal-usul 2

•June 2, 2009 • Leave a Comment

Seorang teman yang membaca tulisan terakhirku (terima kasih banyak ya) mengatakan “mirip dengan saya Pak. Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal dengan nenek, kalau mau mandi harus jalan beberapa jauh ke tempat air”. (Maaf kalau tidak sama persis, aku hanya menangkap intinya saja, meski aku menuliskannya di antara dua tanda kutip seolah-olah kutipan langsung.)

Salah satu sumber daya yang langka bagi komunitas pegunungan adalah AIR. Memang tidak sampai harus beli, alhamdulillah, cukup sekedar berkompetisi. Di musim hujan, sumber air di bawah beringin besar yang berdiri beberapa puluh meter ke arah bawah rumahku menyembur berlimpah, dan tidak ada lagi kecemasan soal ini, meski di saat yang sama kecemasan yang lain menyembul: BERAS. Masa-masa awal musim hujan hingga Desember-Januari hampir selalu menjadi masa yang berat di masa kecilku. Pada musim semacam itu, ketika padi baru mulai di tanam dan persediaan makanan menipis (atau bahkan habis) selama kemarau, kami sering hanya bisa membayangkan mewahnya sepiring nasi putih. Kebanyakan, dan begitu pula para tetanggaku kala itu, hanya sanggup makan nasi jagung yang harganya jauh lebih murah.

Musim kemarau tantangannya lain lagi, dan yang paling berat tentu saja air. Sumber air yang aku sebut tadi (lazimnya disebut “belik”) mengering di pertengahan musim, menyisakan ceruk batu yang sama sekali tidak menyimpan harapan. Tempatnya pun ditinggalkan terbengkalai, tertutup kotoran mulai dari daun bambu kering sampai buah beringin yang rontok. Kalau kebetulan musim kemarau melalui bulan Selo (bulan ke-11 dalam penanggalan Jawa), maka warga akan membersihkan belik itu dalam acara “bersih kali” karena beringin besar yang menaunginya itu juga berfungsi sebagai “danyang” (Biasanya akan ditaruh nasi dengan srundeng dan telor, aku beberapa kali mencuri telurnya). Undangan untuk memanggil para warga agar datang ke kerja bakti “bersih kali” disampaikan melalui bunyi kentongan di langgar kampung. (Eksotis kan, perpaduan antara religi dengan animisme.)

Maka, bila musim kemarau datang, perburuan untuk mendapatkan air pun di mulai. Ada dua lokasi sumber air yang selalu mengalir sepanjang tahun, kebetulan tempatnya berada di ujung yang saling berlawanan, sama-sama jauhnya dari rumahku yang berada di tengah-tengah. Diperlukan strategi untk menikmati sumber daya di tengah kelangkaan itu: bangun pagi-pagi. Bahkan Ibuku biasanya bangun sebelum subuh dan dua kali PP ke salah satu sumber air untuk mengisi genthong tanah di dapur. Itulah tandon air kami untuk keperluan memasak dan minum sepanjang hari. Untuk menerangi jalan menembus gelap, beliau membawa obor berdesain cantik dari kuningan, kreasi ayahku. Atau, kalau tidak ada minyak tanah, jadilah seikat daun kelapa kering dibakar untuk penerangan.

Biasanya Ibu membangunkan kami (aku dan dua kakak perempuanku) setelah beliau menyelesaikan satu etape pengambilan air, dan menggiring kami bertiga untuk mandi sebelum ke sekolah. Ada kalanya, karena kalah persaingan, kami tidak menemukan cukup air untuk mandi…dan kami pun berangkat ke sekolah hanya bercuci muka dan menggosok gigi. Kalau kami bangun kesiangan, maka kami harus bersiap masuk dalam antrean orang dan jerigen kosong menunggu giliran. Tidak boleh ada yang memecah antrean! Itu aturan tak tertulis dan semua orang menjunjungnya tinggi-tinggi. Sumber air di ujung selatan lebih jernih dan lancar daripada yang di ujung utara, tetapi jalan ke sana lebih berat dan hutan yang mengapit jalan setapaknya lebih lebat. Kami lebih sering ke sumber air satunya, yang meski kalah segar dan penggunanya lebih banyak, tetapi lebih aman bagi jiwa anak-anak kami. Setidaknya kami mengurangi risiko ketemu babi hutan yang pulang ke sarang setelah semalaman berkeliaran.

Ayahku bukan petani, karena kami tidak memiliki sawah. Sebagai mata pencaharian, ayah bekerja di pasar menawarkan jasa reparasi alat-alat rumah tangga. Mulai dari payung rusak sampai lampu petromak bocor. Setiap lima hari sekali, yakni hari Wage, yang merupakan hari pasaran di kecamatan kami, beliau turun gunung menjual jasa di kaplingnya yang sempit. Sewaktu kecil aku sering ikut ke tempat kerja beliau, menyaksikan susah payahnya beliau mengumpulkan seratus dua ratus perak dari pekerjaannya itu. Di luar hari Wage, kalau kebetulan pas ada order, ayah juga bekerja di rumah. Biasanya pelanggan datang dengan membawa peralatan rusaknya, menunggui ayah memperbaikinya hingga selesai. Profesi seperti ayahku ini dikenal sebagai tukang patri, meski tidak semua pekerjaannya melibatkan patri. Patri adalah sejenis logam olahan yang digunakan untuk menggandeng atau menambal logam. Konon pekerjaan itu sudah beliau geluti sejak jaman Belanda. (Di KTP beliau tertulis tahun lahir 1927, meski konon katanya beliau lahir jauh sebelum itu. Ada yang menyebut 1902.)

Ibuku tipikal perempuan desa tempo doeloe. Usianya terpaut jauh dari ayahku. Menurut kisah Ayah yang memang bertetangga dengan keluarga orang tua ibuku, ibu lahir pada awal jaman Jepang, yang berarti tahun 1942 (itu pula yang tertulis di KTP). Ibuku adalah istri kedua ayahku, yang beliau nikahi setelah pernikahan pertamanya tidak dikarunia keturunan selama 26 tahun. Tidak ada dokumen yang bisa aku jadikan rujukan pada usia berapa Ibu menikah, tapi sepertinya 17 tahunan. Itu karena kakak sulungku lahir awal 1960. Ibuku buta huruf total. Ayah masih mending karena bisa membaca huruf Arab, dan rangkaian huruf latin pendek sederhana.

Rumah kami yang berdinding anyaman bambu (gedheg) dan berlantai tanah itu memiliki tiga kamar tidur, ruang tengah yang juga dilengkapi dengan sebuah amben, dan dapur. Satu kamar tidur adalah milik ayahku, yang seingatku selalu tidur sendiri. Kamar tengah tidak difungsikan untuk kamar tidur, dan kami tiga anak terakhirnya semua takut-takut untuk masuk ke dalamnya. Ada kesan seramnya, entah kenapa (belakangan setelah kakak ketigaku beranjak dewasa, kamar itu diubah menjadi tempat sholat), dan satu kamar lagi ditempati kakak ketigaku. Sejauh yang bisa aku ingat, kakak pertamaku sudah menikah dan yang kakak kedua jarang ada di rumah. Aku, kedua kakak perempuanku dan ibuku tidur bersama di dipan yang ada di ruang tengah, hanya terpisah sekitar dua meter dari seperangkat kursi kayu yang mengitari meja kayu tua di tengah ruangan. Begitu sampai aku lulus SD. Baru setelah menginjak SMP aku tidur bersama ayahku.

Jadi, dengan latar sosial ekonomi seperti itulah aku tumbuh

Asal-usul

•June 2, 2009 • Leave a Comment

Panggul adalah nama kecamatan kecil di kabupaten Trenggalek. Dibanding ke-12 kecamatan lainnya, ia termasuk tidak beruntung dengan topografinya yang berat. Sebenarnya Panggul hanya berjarak sekitar 55 km dari pusat kota Trenggalek, tapi jarak tempuh darat (sementara belum ada jalur udara dan laut) untuk sampai ke sana bisa memakan waktu hingga 90 menit, atau bahkan 120 menit jika naik bis. Penyebabnya adalah karena medan yang terlampau menantang, tanjakan dan turunan curam, kelokan-kelokan tajam, dan jalan sempit yang sebagian besar diapit hutan di satu sisi dan jurang di sisi lainnya. Silakan dibayangkan sendiri, kalau mau.

Panggul memiliki bentuk yang unik, seperti “cikrak”. Sisi timur, barat, dan utara dipagari pegunungan, yang sebagian besar sudah gundul atau semi-gundul karena dibuka untuk lahan pertanian. Di sebelah selatan adalah hamparan laut dengan ombaknya yang terkenal kuat dan besar. Setiap tahun, kalau tidak salah, selalu memakan korban. Dipek mantu Nyai Roro Kidul, kata orang. Pantai yang menghampar dari timur ke barat itu kurang bisa menjadi sandaran ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Keterbatasan sarana dan ombak yang kurang bersahabat menjadikan pintu akses ke laut terbatas. Praktis hanya di ujung timur saja yang aktivitas pernelayanannya lumayan ramai.

Entah dengan alasan apa nenek-kakek moyangku dulu memilih berdiam di lereng pegunungan sebelah barat. Kadang dalam hati aku protes juga, area yang datar di bawah sana masih cukup luas, kok milih tempat setinggi ini? Menghindari banjir? Tidak sama sekali, karena Panggul relatif aman dari banjir meski belakangan tidak begitu lagi di beberapa titik. Menghindari Belanda? Kayaknya tidak juga. Aku nyaris tidak pernah mendengar heroisme melawan penjajah di Panggul, kecuali secuil kisah pemberontakan PKI Madiun 48 yang merembet. Sepasukan tentara nasional, begitu kata almarhum ayahku, melarikan diri sampai ke Panggul, masuk ke hutan-hutan, menghindari kejaran PKI. Juga ada kisah Panglima Jenderal Besar Bintang Lima Soedirman yang pernah melintasi Panggul dalam perjalanan gerilya beliau yang melelahkan. Cuma melintas saja, dengan iringan deretan obor yang panjang mengular indah apabila dilihat dari atas. Lagi-lagi, kata ayahku.

Di lereng pegunungan itulah aku memekikkan tangisan pertamaku, di rumah model kuno berdinding anyaman bambu, berlantai tanah. Aku tidak yakin bila aku terlahir di atas kasur; ingatan terjauhku ke masa lalu tidak dapat menemukan kasur di sana. Hanya dipan kayu dengan hamparan tikar pandan menutupi “galar” yang terbuat dari bambu dipecah. Bukan model yang rata dengan lantai, tapi yang menyisakan kolong (“longan” dalam bahasa kami) yang multi-guna, mulai dari untuk menaruh sesajen di tempat orang yang sedang hajatan, hingga sebagai tempat bersembunyi saat main petak umpet. Ada sekitar 25 rumah lain yang tersebar dalam radius 1 km-an. Dan karena bentuk tanahnya, hanya beberapa dari kami yang memiliki tetangga kiri-kanan. Sebagian besar bertetangga atas-bawah. Rumah orang tuaku nomor dua dari atas. Di atas rumah yang paling atas…hutan. Dulu, babi hutannya banyak!!

Lingkunganku eksotis dalam tanda kutip. Jika pagi sinar matahari berlomba menerobos lebatnya dedaunan untuk sampai ke lantai tanah rumahku. Orang-orang bergegas ke kali untuk mencuci muka atau mandi, laki perempuan, di tempat yang sama! Saat malam datang, giliran jangkrik dan binatang malam lain (semisal burung hantu dan luwak) menyanyi dalam gelap yang merajai. Jika berada di luar rumah, akan terlihat sinar lampu minyak tanah yang lemah menerbobos anyaman dinding-dinding bambu rumah tetangga. Atau jika menebar pandangan lebih jauh, ke arah bawah, ke wilayah “kota” Panggul yang datar, akan terlihat satu dua kedipan lampu listrik bertenaga diesel menyelingi kepekatan sekeliling. Dari satu dua rumah terdengar siaran radio SW-MW bertenaga baterai yang setiap jam tujuh menyanyikan mars ABRI yang bersemangat menghentak “Angkatan bersenjata republik indonesia…siap berjuang, mempertahankan negara republik Indonesia”. Ayahku juga punya radio sejenis, dan saluran favoritnya adalah Radio Khusus Informasi Pertanian (RKIP) Wonocolo Surabaya, yang setiap habis maghrib menyanyikan lagu penuh optimisme: “Murah sandang pangan….seger kuwarasan….”

Aku lahir dalam generasi yang “salah”. Salahnya: tidak ada anak lelaki seangkatan denganku. Umumnya mereka beberapa tahun lebih tua, atau lebih muda, sehingga aku tidak memiliki teman sepermainan. Mainan? Aku ingat pernah punya mobil-mobilan plastik warna merah berbentuk sedan yang bila dipencet akan ringsek. Aku pernah juga punya pistol mainan yang dibelikan kakak iparku di pasar malam di kota kecamatan. Itu saja yang aku ingat untuk jenis mainan “modern”; selebihnya adalah mobil-mobilan dari kulit jeruk, sabut kelapa, kuda lumping dari pelepah pisang, atau bedil dari buluh bambu dengan peluru pentil jambu air. Tapi sebagian besar waktu bermainku adalah dengan kakak perempuanku dan teman-temannya. Main masak-masakan, dsb. Kupikir itu pula yang menghilangkan sebagian besar sifat “macho”-ku ketika beranjak dewasa. Mau bagaimana lagi…aku tidak diterima oleh anak-anak lelaki lain yang lebih senior. Pernah suatu kali aku pulang sekolah bersama mereka, dan sampai setengah perjalanan, di tengah hutan yang jalan setapaknya menanjak tajam, mereka semua lari. Aku…mana mungkin mengejar?

Tapi ternyata itu juga sebuah keuntungan, setidaknya membebaskan aku dari jeratan kebiasaan turun-temurun. Kebanyakan anak-anak di kampungku hanya menyelesaikan sekolah dasar atau paling-paling SMP. Seingatku hanya dua keluarga yang mengirimkan anaknya ke SMEA di Lorok, Pacitan. Sebagian besar, setelah menamatkan pendidikan dasarnya, menghabiskan beberapa tahun di rumah, membantu orang tuanya di hutan, beternak kambing, dsb., sambil menunggu cukup umur untuk bekerja di Surabaya. Laki perempuan. Pembantu rumah tangga dan kuli bangunan. Seperti itulah, termasuk saudara-saudaraku. Dua kakak tertuaku, laki-laki, bahkan tidak tamat SD! Kakak ketiga sampai kelima tamat SD, alhamdulillah. Aku si bungsu, memiliki kelainan. Aku cinta sekolah setengah mati.

Rute ke SD-ku lumayan berat meski dari jaraknya tidak terlalu jauh, 2 kiloan saja. Cukup menciutkan nyali bagi orang-orang yang baru pertama sampai di sana. Karena rumahku di lereng gunung, dan SD-ku di dataran di bawah sana, maka saat berangkat sekolah aku 90% menukik turun, dan saat pulang 90% menukik naik. 10%-nya jalan ringan di tanah datar dari kaki gunung ke sekolah. Tentu saja tidak ada alat transportasi; jalan yang tersedia hanyalah jalan tanah berbatu dengan lebar cukup untuk dua orang, membelah hutan! (Aku pernah berpapasan dengan rombongan babi hutan saat pulang sekolah!!!) Saat musim panas, batu-batu meringis sepanjang jalan dengan debu yang cukup membuat sepatu hitam menjadi agak kelabu. Saat musim hujan, jalan itu juga menjadi drainase otomatis bagi air hujan untuk mencapai tempat yang lebih rendah. Tidak terlampau indah dibayangkan. Tapi bagi kami yang mengalami, tetap ada indahnya. Setidaknya saat musim panas kami bisa berlomba-lomba memanjat pohon jambu monyet liar yang banyak tumbuh di kanan kiri jalan, memetiknya untuk mengurangi haus menempuh etape berat sepulang sekolah. Rasanya sepet-sepet manis, dan getahnya sangat merusak kain. Atau kalau musim hujan, kami membendung air yang mengalir atau merembes dari tanah menjadi sungai-sungai kecil dan mencuci sepatu kami yang berlumpur di situ. (“Kami” yang aku maksud kebanyakan adalah cewek, kakakku dan teman-temannya.)

Aku anak gunung, yang cinta sekolah…no matter what:)

Namaku sendiri pun “aneh”

•June 2, 2009 • Leave a Comment


Bila “jalanijalanku” terdengar aneh, sebenarnya namaku sendiri pun aneh. Untuk urusan internasional, namaku yang cuma sepenggal sempat membingungkan petugas di kampusku dulu. Diperlukan pengetahuan lintas budaya untuk memahami bahwa orang Indonesia kampung seperti saya tidak banyak yang memiliki family name, dan bahwa nama yang hanya terdiri dari satu kata merupakan sesuatu yang lazim. Bahkan orang yang namanya terdiri atas dua kata pun tidak serta merta membawa nama keluarga pada nama belakangnya: Anton Hariadi bukan Anton dari keluarga Hariadi; Mawar Firdausi juga bukan Mawar binti Pak Firdausi.

Nah, karena nama yang tidak ‘standar’ itulah, dan tuntutan untuk mempunyai (walau sementara) nama keluarga, namaku sempat menjadi Sukono Sukono. Dan didorong oleh kesadaran internasional yang sama, aku sematkan namaku di belakang nama anak gadisku. Bangga atau tidak dia menyandangnya, aku tidak tahu. Semoga saja iya.

Itu dari standar internasional. Dari asal-usulnya, namaku tidak kalah “aneh”. Seperti kebanyakan orang tua yang tinggal di desa yang belum terjamah listrik dan televisi pada zaman itu, nenekku, sebagai wakil ayahku, menamaiku sesuai dengan kondisi saat aku dilahirkan. Beliau hanya memiliki dua persediaan nama, dua-duanya disesuaikan dengan kondisi paceklik hebat saat itu. Ditambah, karena aku bersemayam 13 bulan di rahim ibuku (ada yang bilang, menghapalkan kamus dulu), saat aku terlahir persediaan makan yang disiapkan untuk nutrisi kehamilan hingga bulan ke-9 habislah sudah. Jadi, saat aku lahir … habis deh … Yang tersedia berlebih, kata nenekku, bukan lagi beras melainkan daun singkong dan gaplek (yang selanjutnya akan diolah menjadi thiwul, nasi dari gaplek yang ditumbuk halus menjadi tepung dan ditanak dengan atau tanpa campuran beras).

Untungnya aku terlahir laki-laki. Masih mending, karena nama perempuan yang disiapkan nenekku sangat mengerikan: THIWUL. (Oh My God!!!). Aku kebagian BONO, yang artinya “habis sama sekali”. Masih agak lumayan sadis, tapi sedikit lebih baik.

So, aku tumbuh sebagai Bono. Nama itu masih dipakai di kampungku untuk memanggilku sampai sekarang. Jadi, anggap saja itu nama kampungku. Nama nasionalku yang kupakai di ijazah dan semua dokumen resmi kusandang mulai 10 Juni 1982, tanggal aku didaftarkan ke SD. Tanggal itu pula dipakai oleh kepala sekolahku sebagai tanggal lahirku karena, saat ditanya tanggal kelahiranku, orang tuaku tidak memiliki informasi, selain Kamis Pon wuku Landep, musim larang pangan. Kakak sulungku yang memberi nama ini, entah dengan pertimbangan apa. Yang aku ingat, saat itu sudah ada tetangga mertuanya yang memakai nama itu. Mungkin kakakku nge-fans padanya.

“Sukono” itu terdengar agak aneh; yang umum adalah SuNGkono. Makanya, banyak yang salah menuliskan namaku, mulai dari tempat pencucian mobil sampai rental VCD. Ibu teman-teman SD-ku dulu juga begitu. Tetangga kampungku di Malang juga begitu. Sering kali undangan untukku ditulis dengan ekstra NG…yang kadang kujadikan dalih saat tidak mendatangi undangan. Kan bukan aku yang diundang, candaku.

Saat masih di sekolah dasar, malu sekali aku bila ada yang memanggilku Bono. Mereka itu umumnya tetangga se-RT yang menjadi kakak kelasku. Aku tidak pernah TK (yang akibatnya waktu kelas satu aku tidak tahu kalau Indonesia adalah negaraku, dan tidak ada sila keenam Pancasila), jadi saat memulai sekolah dasar, aku benar-benar orang baru yang memasuki dunia baru. Alias, tidak ada yang mengenalku. Mereka yang kemudian kenal aku, mengenalku sebagai Sukono, bukan Bono. Jadi…malu bukan main aku bila ada yang memanggilku Bono di sekolah. Seolah-olah aku ditelanjangi di depan teman-teman baruku, bahwa aku punya nama lain yang artinya begitu tidak sedap. Tentu saja mereka tahu arti “bono”, lha wong we share the same language and culture.

Ya…begitulah persepsi kecilku tentang nama gandaku. Aku merasa my other name is better than the other, meski nama itu kayaknya tidak ada artinya. Peralihan dari Bono menjadi Sukono bukan proses yang rumit secara prosedur, karena aku terlahir tanpa akta kelahiran. Nama resmi yang pertama kusandang (saat menginjak usia 6 tahun) selanjutnya diabadikan di semua dokumen, mulai ijazah sampai KTP. Dan saat mendaftar untuk mendapatkan akta kelahiran pada tahun 2001, tidak ada keraguan lagi untuk memberitahu petugas bahwa nama adalah Sukono, tanpa NG.

So, nama kampungku adalah BONO

Nama nasionalku adalah SUKONO

Nama internasionalku SUKONO SUKONO

I’m coming…

•June 2, 2009 • Leave a Comment

Akhirnya aku datang juga. Tentunya tanpa sambutan atau pun tepuk tangan. Bahkan tanpa terlalu memimpikan suatu saat seseorang akan singgah, membaca, dan meninggalkan komentarnya di sini.

Ternyata susah memilih username di siniMungkin karena sudah terlalu banyak pengguna, sehingga nama-nama yang catchy sudah lebih dahulu dipilih. Tapi bersyukurlah aku masih bisa mendapatkan “jalanijalanku”, setelah gagal dengan “hikmah berserak”, “jalanhikmah”, “perjalanan”, “jalanhidupku” dan beberapa yang lain lagi yang sempat aku coba. Terdengar terobsesi dengan kata “jalan”? Memang.

Jalan adalah bagian dari hidup yang tak pernah dapat kita tinggalkan. Setiap hari kita menyusurinya, dengan berbagai perasaan dan pikiran yang sedang mengisi jiwa dan kepala kita. Dari atas sadel sepeda, jok kendaraan umum, atau kaki kita. Sering kita lihat berbagai kejadian yang menyentuh, menyentak, membangkitkan amarah, dan mengurai air mata. Di jalan, berbagai kejadian bisa menjadi lumbung hikmah. Karena itulah aku memilih “jalan” sebagai tema dan setting blog ini.

Hello world!

•June 2, 2009 • 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!